Rabu, 12 Januari 2011

Judul Apa Yang Bagus Buat Postingan ini ??

Sampai kapan kau ingin memandang batu nisan itu? Sudah setahun sejak upacara pemakaman orangtuanya. Untuk apa kau selalu mengingat orang yang sudah meninggal, dan untuk apa kau selalu menatap ke belakang. Dunia tidak akan berubah, jika kau selalu seperti itu. Kau menjual dirimu untuk mencari uang. Mencari uang dengan segala hal, baik maupun buruk selalu tak pernah kau pikirkan.
"Eng…."
"Bagus! Tubuhmu sangat indah, kau juga sangat menggairahkan! Hahaha…" ucap salah satu seorang yang menyewanya malam itu.
Hari ini adalah pertengahan musim panas, dimana murid-murid memulai aktifitasnya dengan bermalas-malasan. Tak terkecuali Ciel Phantomhive, dia anak yang penyendiri dan pendiam jauh dari dunia luar. Dia anak orang miskin dan tak punya orang tua. Dia hanya tinggal sebatang kara, hanya bisa menjual tubuhnya untuk mencari sesuap nasi. Kini kehidupannya mulai berubah, segalanya sudah tercukupi dari makanan yang mewah hingga pakaian yang mahal. Karena kini dia menjadi pemuas nafsu seorang laki-laki kaya. Berbeda sekali dengan Sebastian Michaelis, dia anak yang jauh lebih ceria dibanding Ciel. Mudah bergaul dan banyak teman, orangtuanya pun kaya dan menjadi penyumbang terbesar di sekolah ini. Namun entah kenapa matanya hanya tertuju kepada laki-laki yang bernama Ciel itu, walau dia tidak pernah satu kalipun berbicara dengannya.
Malam itu, Ciel datang ke rumah seseorang yang menyewa dirinya untuk pemuas nafsunya. Dia mendustakan perasaannya, membuang jauh rasa jijik yang mulai menggerogoti dirinya saat tubuhnya mulai disentuh laki-laki hidung belang itu.
Ini baru pertama kalinya Ciel datang ke rumah pelanggan tetapnya itu. Kedatangannya sangat dinantikan oleh orang itu. Ciel membunyikan bel pintu itu sampai dua kali, hingga ada sesosok laki-laki tinggi nan tampan membuka pintu untuknya. Ciel begitu terkejut saat orang yang membukakan pintu itu adalah Sebastian Michaelis, teman sekelasnya. Matanya terbelalak saat mengetahui bahwa Sebastian adalah anak dari pelanggan tetapnya itu. Mereka hanya berdiam diri saling terkejut melihat satu sama lain. Sebastian bingung untuk apa Ciel datang ke rumahnya, tahu dari mana alamat rumahnya.
"Aku ingin bertemu dengan tuan Yamato." Kata Ciel.
"Ah, kau ingin bertemu dengan ayahku? Ada urusan apa dengan ayahku?" tanya Sebastian.
"Ini bukan urusanmu. Panggilkan saja ayahmu."
"Oh.." Sebastian pun mempersilahkan Ciel untuk duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu pilihan dan itu pasti mahal.
Beberapa menit kemudian, ayahnya pun turun menyambut kedatangan Ciel di sana. Sedangkan Sebastian sedang memperhatikan mereka di lantai dua. Mencari tahu ada hubungan apa Ciel dengan ayahnya. Ayah Sebastian mengajak Ciel ke ruang kerjanya, naik ke lantai dua hingga harus berpapasan dengan Sebastian. Diliriknya mata Sebastian, mata yang begitu menjijikkan di pikirannya. Karena dia adalah anak dari pelanggannya itu. Ciel pun masuk ke dalam ruangan kerja Yamato, ayah dari Sebastian. Di sana mereka melakukan kegiatan mesumnya. Ayah Sebastian adalah seorang maniak, hingga mengharuskan Ciel melakukan hal-hal aneh untuk memuaskan nafsunya. Tubuhnya pun di pukuli dengan tali, hingga memberi bekas sayatan di beberapa bagian tubuhnya. Terkadang tubuhnya memar dipukuli ayah Sebastian karena dia mengeluh capek. Namun itu semua dilakukannya demi uang.
Ciel keluar dari ruangan itu dan hendak pulang, besok pun dia harus datang kembali ke sini. Saat turun tangga, tanpa sengaja dia kembali berpapasan kembali dengan Sebastian. Sebastian begitu kaget saat melihat ada bekas luka di bibir dan pipinya. Namun belum sempat dia menanyakannya, Ciel sudah berjalan pergi meninggalkannya.

Besok dan besoknya lagi, Ciel kembali ke rumah itu. Sudah beberapa hari ini Ciel keluar masuk ke dalam ruangan kerja ayah Sebastian.
Sebenarnya Sebastian sangat penasaran apa yang mereka lakukan di dalam ruangan itu. Dan hari ini Sebastian bermaksud mencari tahu.
Dibukanya pelan pintu ruangan itu, matanya terbelalak saat melihat Ciel yang sedang disetubuhi dari belakang oleh ayahnya sambil menjambak rambutnya.
"Aah.. Tuan.. aah.." desah Ciel saat kejantanan orang itu mulai menyeruak masuk ke dinding prostatnya dengan kasar. Ditariknya dengan kasar rambut Ciel, hingga beberapa helai pun terselip di tangan orang itu. Di dorongnya dengan keras tubuhnya, hingga rasa sakit mulai menyelimuti tubuhnya. Sebastian begitu tidak percaya dengan apa yang dia lihat barusan, dia pun langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
Malam pun semakin larut. Sudah waktunya Ciel untuk kembali pulang. Namun tubuhnya kini benar-benar capek dan banyak sekali luka pada tubuhnya. Saat hendak turun tangga pun dia hampir jatuh. Kalau saja Sebastian tidak memegang tangannya, dia pasti akan jatuh dari tangga yang tingginya lebih dari 3 meter itu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sebastian.
"Lepaskan tanganku!" bentak Ciel berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sebastian. Namun tubuhnya kini sedang lemah, dia tidak mampu bergerak banyak.
"Badanmu panas sekali."
"Lepaskan ak…" sebelum melanjutkan ucapannya, kepalanya serasa pusing dan penglihatannya menjadi gelap. Dan akhirnya dia pingsan di pelukkan Sebastian.
Sebastian pun membopong Ciel ke kamarnya. Direbahkannya tubuh itu di atas ranjangnya dan mengambil obat penurun panas. Obat itu dimasukkan ke dalam mulutnya sendiri sambil meminum air, setelah itu ditranfernya obat itu ke mulut Ciel dari mulutnya. Agar obat itu bisa masuk ke dalam tubuhnya. Kemudian Sebastian mengompres kening Ciel dengan air dingin lalu mencoba mengobati lukanya dengan obat-obatan. Dilepaskannya satu persatu kancing kemeja Ciel dan melepaskan kemeja dari tubuhnya. Dilihatnya banyak luka di sekujur tubuhnya. Hingga dia kesal pada ayahnya yang sudah menyiksa orang yang dicintainya, walau dia tahu Ciel tak pernah mengenalnya lebih jauh lagi.
Beberapa jam kemudian.
Ciel tersadar dari pingsannya. Dia mulai membuka matanya dan dia begitu kaget saat melihat ruangan ini bukanlah kamarnya. Matanya menyelusuri tiap senti ruangan itu, dan mendapati seseorang yang tengah tertidur di sampingnya, menunggunya sampai sadar. Tentu saja dia adalah Sebastian. Sebastian pun terbangun saat merasakan Ciel mulai bergerak dari ranjangnya.
"Kau sudah sadar rupanya." Sahut Sebastian.
"Ah, kepalaku.." gumam Ciel sambil menyentuh kepalanya yang masih pusing.
"Lebih baik kau istirahat saja, tubuhmu masih lemah. Lukamu juga belum kering."
"Aku harus pulang. Aku tidak mau merepotkanmu." Timpal Ciel mencoba berjalan. Namun tubuhnya masih lemah hingga dia hampir terjatuh jika Sebastian tidak menopang dirinya.
"Sudah kubilang tubuhmu belum sehat betul. Kembalilah ke ranjang dan istirahat sebentar lagi." Suruh Sebastian.
"Tidak! Aku masih harus bekerja!" bentak Ciel.
"Bekerja? Malam-malam begini?" tanya Sebastian. "Kau mau menjual tubuhmu yang penuh luka ini?"
"Apa maksudmu?"
"Tak usah berbohong, aku tahu apa yang kau kerjakan di ruangan kerja ayahku. Kau menjual dirimu pada ayahkukan? Untuk apa kau lakukan itu?"
"Ini bukan urusanmu!" gertak Ciel.
"Ini urusanku juga!"
"Kau tidak tahu apa-apa. Sebaiknya jangan campuri urusanku!"
"Kalau aku tidak mau bagaimana? Apa yang akan kau lakukan?"
"Kau sudah gila! Biarkan aku pergi!" teriak Ciel mencoba memberontak dari pelukan Sebastian.
"Hei, aku punya tawaran untukmu." Sahut Sebastian dan membuat Ciel terdiam sejenak. "Aku akan membayarmu dua kali dari yang ayahku dan orang-orang berikan padamu, asal kau tinggalkan pekerjaanmu itu dan juallah dirimu padaku."
"Jangan bercanda! Kau tidak akan mampu membayarku!"
"Benarkah?" Sebastian melepaskan tangannya dari Ciel lalu membuka lemarinya. Diambilnya beberapa uang dari lemarinya dan di lemparkannya kepada Ciel. "Ini aku bayar kau kontan. Atau masihkah kurang? Aku bisa memberimu lebih dari itu, asalkan kau menjual tubuh dan hatimu padaku."
"Eh, hati?" tanya Ciel bingung.
Sebastian kembali mendekati Ciel, menyentuh pipinya lalu mendongakkan kepalanya dan seraya mendekatkan bibirnya tepat di depan bibir lawannya.
"Aku hanya menginginkanmu. Kau benar-benar membuatku bernafsu saat pertama kali aku bertemu denganmu. Jadilah milikku seutuhnya, juallah hati dan tubuhmu padaku. Aku berjanji akan bersikap lembut padamu. Tinggalkanlah orang-orang yang dengan mudah menikmati tubuhmu ini. Karena mulai sekarang kau adalah milikku." Dikecupnya bibir itu dan dilumatnya dengan lembut. Sebastian merengkuh dengan lembut tubuh yang ringkih itu, berharap dia nyaman di pelukkannya. Ciel mulai menarik baju Sebastian, menjinjitkan kakinya meminta lebih dari ciumannya.
"Enn..aah.." desah suara Ciel saat lidah Sebastian mulai masuk ke dalam mulutnya. Di sapunya langit-langit mulut Ciel, hingga desahannya mulai tak beraturan.
Dipegangnya kedua pipi Ciel dengan tangannya, sedikit menekannya ke arah wajahnya. Dan mencoba masuk lebih jauh ke dalam mulut orang yang dicintainya itu. Mereka saling bertukar saliva, hingga Ciel harus menelan saliva milik Sebastian. Sebastian begitu menikmati permainan lidah Ciel di dalam mulutnya, hingga benar-benar membuatnya bergairah dan tak sabar ingin menyentuhnya. Sudah lima menit lebih mereka berciuman, dan akhirnya mereka saling melepaskan ciumannya. Saat ciuman mereka terlepas, saliva mulai mengalir diantara mulut satu sama lainnya.
Ciel pun memalingkan wajahnya menghindari tatapan mata Sebastian, sudah sekian lama dia tidak bergairah seperti ini. Tidak sama seperti orang-orang yang telah menjamah tubuhnya dengan kasar. Berbeda dengan Sebastian, dia begitu lembut dan membuat sensasi lebih yang dirasakannya.
Sebastian kembali memegang kedua pipi Ciel yang mungil itu, ingin sekali ia segera memakan tubuh mungil itu. Namun dia masih ingin menikmati seluruh tubuhnya, menyentuh tiap titik sensitive orang yang dicintainya itu.
"Hei, kau sudah bergairah? Sentuhlah aku sesukamu." Ucap Sebastian membiarkan tubuhnya dijamah oleh orang yang disayangi lebih dari nyawanya sekalipun itu.
Mendengar itu Ciel mencoba kembali mencium bibir Sebastian dan karena kurang keseimbangan, Sebastian pun terjatuh. Ciel menimpa Sebastian yang jatuh. Kini posisinya berada di atas Sebastian, orang yang telah membeli tubuhnya. Ciel melumat bibir Sebastian dengan bernafsu, memasukkan lidahnya kembali ke dalam mulutnya. Ciel masih meremas-remas baju Sebastian sambil mendesah-desah nikmat dengan permainan lidah mereka di mulutnya.
Beberapa saat kemudian, ciel melepaskan ciumannya. Lalu membuka kancing baju Sebastian sambil menciumi lehernya. Ciumannya kini turun ke bawah, mencium dan menjilati tonjolan yang berada di dada Sebastian. Dan tangannya mulai melepaskan resleting celana panjang Sebastian. Lalu di keluarkannya kejantanan yang mulai menegang itu. Diremasnya dan sesekali dimainkannya dengan jari-jarinya, membuat Sebastian harus menahan nikmatnya permainan seorang Ciel Phantomhive. Ciumannya pun turun ke bawah dan mulai menjilati kejantanan Sebastian. Dijilati kejantanannya, hingga jantungnya harus memompa dengan cepat. Tangan Sebastian menyibakkan rambut Ciel yang menutupi mata, hingga terlihat sebuah kain yang menutupi matanya.
Dan beberapa saat kemudian Sebastian mengeluarkan cairan putih di dalam mulut Ciel. Ciel pun menelan habis cairan itu dan menyapu bersih mulutnya.
Sebastian kembali duduk dan berhadapan dengan Ciel. Disentuh pipinya dan seraya tersenyum tulus padanya. Mendapat perlakuan manis itu, Ciel memeluk Sebastian. Merasakan kehangatan dan kenyamanan saat memeluknya.
Sebastian pun dengan pelan mendorong tubuh Ciel, hingga dia terjatuh di atas tubuhnya. Diciumnya kening orang yang disayanginya, turun ke mata dan ke bibir. Lalu turun ke bawah, menciumi lekukan lehernya. Memberikan sebuah tanda yang tak akan pernah hilang. Bukan hanya sekedar tanda, namun makna perasaan yang tergores di sana.
Dibukanya kancing kemeja Ciel hingga kemeja itu terlepas dari tubuhnya. Dilihatnya kembali bekas luka yang ada di tubuhnya. Disentuhnya dengan jari-jarinya lalu dicium dengan bibir. Ciel yang pertama kali mendapat perlakuan lembut itu pun mulai menitikkan air matanya.
Disentuhnya tonjolan di dada Ciel dan dipilinnya agak kasar tapi lembut, membuat Ciel harus menahan desahannya.
"Enn…Uuh…Huu.." desahnya sambil menahan tangis.
"Kau menangis? Apa aku menyakitimu?" tanya Sebastian.
"Em-em." Ciel menggeleng-gelangkan kepalanya. "Tidak. Baru pertama kali ini ada yang menyentuhku dengan lembut." Katanya.
"Hmm.. Begitukah? Kalau begitu aku akan terus bersikap lembut padamu."
Lalu kembali Sebastian menyentuh tonjolan di dada Ciel, dan dilumatnya dengan mulutnya. Sesekali dijilatnya dengan lidahnya, hingga salivanya berceceran di dada Ciel. Lalu ciuman itu turun ke perutnya dan tangannya berusaha membuka resleting celana Ciel.
Kejantanan Ciel mulai tegak dan mengeras, dijilatnya kejantanan itu sambil sesekali dihisapnya. Tangan Sebastian pun kini mulai bermain di tonjolan di dada Ciel dan memilin-milinnya agak keras, namun Ciel begitu menikmatinya.
Dilumatnya kejantanan Ciel masuk ke dalam mulut Sebastian, keluar masuk dan sesekali lidahnya bermain di kejantanannya. Lalu digigitnya kecil-kecil di ujung kejantanannya, hingga membuat Ciel harus mendesah-desah keras menikmati permainan Sebastian.
Beberapa saat kemudian tubuhnya menegang dan keluarlah cairan putih dari kejantanannya.
Ditelannya habis cairan itu dari kejantanan Ciel dan masuk ke dalam mulut Sebastian.
Setelah itu diangkatnya tubuh Ciel ke atas ranjang, diposisikan menungging membelakangi dirinya. Lalu disentuhnya lubang milik Ciel dan kembali dijilatinya dengan lidahnya, sesekali ditusuk-tusuknya. Sebastian pun melumuri jarinya dengan salivanya lalu memasukkan satu persatu jarinya ke dalam lubang mulik Ciel. Ditusuk-tusuknya hingga membuat Ciel harus kembali mendesah hebat dan meremas-remas seprei di bawah tubuhnya.
"Uuh,.engg…"
"Kau sudah siap? Aku masukkan, ya?" tanya Sebastian.
"Emm… Onegaishimasu."
Sebastian pun memasukkan kejantanannya ke dalam lubang milik Ciel. Digerakkannya maju mundur seirama dengan tubuh Ciel yang mendorong keluar masuk kejantanan Sebastian yang mulai menyeruak ke dalam dinding prostatnya. Sekali hentakkan dari Sebastian membuat Ciel harus merasakan nikmat yang menjalar di tubuhnya. Diciumnya punggung tangan Ciel dan kemudian mereka kembali berciuman, saling bertukar saliva.
Setelah itu Sebastian berhenti sejenak dan merebahkan tubuh Ciel ke ranjang. Dan kembali kejantanannya menyeruak masuk ke dalam dinding prostatnya. Kaki Ciel pun mulai melingkar di punggung Sebastian dan tangannya mancengkeram erat lengan Sebastian.
"Ciel.. Panggil namaku. Sebut namaku dengan mulutmu." Suruh Sebastian.
"Enn.. Sebas..tian..nn.. Aah…" panggilnya. Sebastian tersenyum mendengar Ciel menyebut namanya. Lalu ditariknya tubuh Ciel naik ke pangkuannya dan tanpa harus mencabut kejantanannya yang masih menancap sempurna di lubang Ciel. Digerakkannya kembali naik turun oleh Ciel menambah sensasi gaya mereka sambil berciuman dengan ganasnya. "Uuh.. Sebas..tiann… Onegai, lebih cepat! Aku.. aku mau.. sam..pai..aakkkkhh…." teriak Ciel saat dirinya mulai mencapai klimaksnya. Hingga dirinya terjatuh dalam tubuh Sebastian.
"Uuh…" Sebastian pun ikut mencapai klimaksnya. Dia mengeluarkan cairan putih itu masuk ke dalam tubuh orang yang dicintainya itu. Dirinya lemas sesudah mencapai klimaksnya, lalu terjatuh di atas ranjangnya bersama Ciel. Sebastian memeluk Ciel, lalu mencium keningnya. "Oyasumi.." ucapnya.
Malam itu mereka tertidur berdua dan saling berpelukkan.

Beberapa hari kemudian Ciel pun tidak lagi menerima panggilan dari orang lain selain Sebastian. Ciel pun kini memutuskan kontrak dengan ayah Sebastian, walau dia tahu bahwa orang itu tidak akan pernah mau memutuskannya. Uang yang diberikannya pun dikembalikan pada ayah Sebastian. Dan Ciel hanya mau menerima uang dari Sebastian, karena kini tubuh maupun hatinya telah dijual padanya.
-The End-

Persahabatan SETAN dan MANUSIA

Ada seorang manusia yang bertemu dengan setan di waktu subuh..
Entah bagaimana awalnya,,
akhirnya mereka berdua sepakat mengikat tali persahabatan..

Ketika waktu subuh berakhir dan orang itu tidak mengerjakan shalat,
maka setan pun sambil tersenyum bergumam, "Orang ini memang pantas menjadi sahabatku..!"
Begitu juga ketika waktu dzuhur orang ini tidak mengerjakan shalat,
setan tersenyum lebar sambil membatin, " Rupanya inilah bakal teman sejatiku di akhirat nanti..!"
Ketika waktu ashar hampir habis tetapi temannya itu dilihatnya masih juga asik dengan kegiatannya, setan mulai terdiam......

Kemudian ketika datang waktunya magrib, temannya itu ternyata tidak shalat juga, maka setan nampak mulai gelisah, senyumnya sudah berubah menjadi kecut. Dari wajahnya nampak bahwa ia seolah-olah sedang mengingat-ngingat sesuatu.
Dan akhirnya ketika dilihatnya sahabatnya itu tidak juga mengerjakan shalat Isya, maka setan itu sangat panik.
Ia rupanya tidak bisa menahan diri lagi,, dihampirinya sahabatnya yang manusia itu sambil berkata dengan penuh etakutan, "Wahai sobat, aku terpaksa memutuskan persahabatan kita !".
Dengan keheranan manusia ini bertanya, "Kenapa engkau ingkar janji bukankah baru tadi pagi kita berjanji akan menjadi sahabat ?".
"Aku takut !",, jawab setan dengan suara gemetar. "Nenek moyangku saja yang dulu hanya sekali membangkang pada perintah-Nya, yaitu ketika menolak disuruh sujud pada Adam, telah dilaknat-Nya; apalagi engkau yang hari ini saja kusaksikan telah lima kali membangkang untuk bersujud pada-Nya. Tidak terbayangkan olehku bagaimana besarnya murka Allah kepadamu !", kata setan sambil ngeloyor pergi...

kecantikan wanita

Untuk membentuk bibir yg menawan, ucapkanlah kata-kata kebaikan. Untuk mendapatkan mata yg indah, carilah kebaikan pada setiap Orang yg anda jumpai. Untuk mendapatkan bentuk badan yg langsing, bagilah makanan kpd mereka yg kelaparan. Untuk mendapatkan rambut yg indah, mintalah anak kecil utk menyisirnya dgn jemari pd setiap hari. Untuk membentuk sikap tubuh yg indah, berjalnlah dgn segala ilmu pngetahuan dan anda tidak akn pernah berjalan sendiri.

Manusia yg melebihi makhluk ciptan Allah yg lain. Ia perlu sentiasa berubah, diperbaharui, dibentuk kembali, dan diampuni. Jd jgn pernah kecilkan seseorang di hati anda. Apabila anda sudah melakukan semuanya itu, ingatlah sentiasa, jika suatu ketika anda memerlukan pertolongan, akn ada tangan yg menghulur. Dan dgn bertambhnya usia anda, anda akn semakin mensyukuri kerana tlh diberi 2 tangan, satu utk menolong diri anda sendiri dan satu lg utk org lain..

Kecantikan wanita bkn terletak pd pakaian yg dikenakan, bkn pd bentuk tubuh atau cara dia menyisir rambutnya. Kecantikan wanita terletak pd mata, cara dia memandang dunia. Kerana di matanya terletak gerbang menuju ke setiap hti manusia, di mana cinta akn dpt berkembang.

Kecantikan wanita juga bkn pd kehalusan raut wajahnya. Tetapi pd kecantikan yg murni, terpancar pd jiwanya, yg penuh dgn kasih syg, memberikan perhatian dan cinta yg diberikan. Dan sbg seorg wanita, tdk harus membanggakan kecantikan yg kita miliki..

- Renung-renungkan lah dan Selamat beramal... huhu-

Sebelah Mata Ibu Padamu..!!! (Renungan)

bismillah hirohman nirohim..

Pada suatu masa, ibunya datang ke sekolah
untuk melihat-lihat keadaan belajar anaknya.
Dia sungguh malu
dan bersembunyi menghindar dari ibunya…
Dia tidak peduli
dan terus saja menghindar, bersembunyi…

Keesokan harinya…
teman-teman sekolah menertawai…nya…
“Eee… ibumu cuma punya satu mata…”

Ketika itu…
ia membenamkan dirinya…
Dia ingin ibunya hilang dari hidupnya…
Dia berkata pada ibunya:
“kalo hanya ingin membuat diri aku malu…
lebih baik kamu mati..!”

Ibunya…
hanya terdiam..!?

Dia pun terdiam dan berkata di dalam hati…
apa yang barusan ia katakan pada ibunya…
setelah amarah yang menguasai dirinya…
Dia tidak pedulikan perasaan ibunya…
dia ingin keluar dari rumah itu…

Kini dia juga telah mempunyai keluarga sendiri…

Suatu ketika ibunya datang ke rumahnya…
setelah beberapa lama tidak berjumpa…
Saat membuka pintu, seorang bocah kecil…
kaget dan menangis…
ketakutan melihat nenek tua
tanpa mata sebelah…

Ibu itu diusir seketika saja
oleh anaknya sendiri seraya berkata:
“kedatanganmu membuat anakku takut
dan menangis… pergi ‘Kau’..!”

“Maaf…
mungkin saya salah alamat…”
balas ibunya.

Beberapa minggu kemudian dia mendapat undangan…
reunian teman sekolah dulu…
Dan dia pun pulang sendiri ke kampung halamannya
untuk bertemu dengan teman lamanya dulu.

Setelah selesai menghadiri acara reunian tersebut…
tergerak hatinya…
ingin melihat-lihat rumah tempat ia tinggal dulu…

saat tiba di rumah, ia tidak menjumpai ibunya…
Seorang tetangga memberikan sepucuk surat kepadanya
dan berkata bahwa ibunya telah meninggal dunia…

Di dalam surat itu tertulis…

“…Anakku tercinta…
…setiap detik…
hati ibu selalu terbayang oleh wajahmu.
Kutahan lapar serta dahaga…
karena rindu kepadamu…

…maafkan ibu…
karena wktu itu ibu datang,
hanya ingin melihat wajahmu…

…maafkan ibu…
telah membuat anakmu menangis ketakutan
melihat wajah ibu… tanpa sebelah mata…

Kini kau telah kembali…
mungkin bisa bertemu dengan
teman-temanmu dulu…

Tapi…
kau tak akan melihat ibu lagi…

Dulu…
di saat ibu melahirkan kamu…
alangkah sedih hatiku…
melihat kau lahir di dunia ini…
tanpa sebelah mata…

Ibu cinta kepadamu…
dan…
kukorbankan sebelah mataku, untukmu…
agar kau bisa melihat keindahan dunia ini…
dengan leluasa…

…Anakku yang tersayang…
maafkan ibu…
karena bagi ibu, ini tiada guna
untuk ibu cerita padamu…
itu semua karena…
aku ikhlas dan benar cinta padamu…

Maafin ibu…

Siapa orang yang pertama kita hormati di dunia ini..?
“ibumu… ibumu… ibumu… dan ayahmu…”

Renungan Hati

kisah pohon apel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.
Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.

"Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.
"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi." jawab anak lelaki itu, "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."
"Aku tak punya uang... tetapi kau dapat mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
"Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon apel.
"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu, "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"
"Aku tak memiliki rumah. Tapi kau dapat menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu."
Maka si anak lelaki menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu kembali merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.
"Ayo bermain-main lagi deganku." kata pohon apel.
"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"
"Aku tak punya kapal, tapi kau dapat mengambil sebagian batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau"

Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah. Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
Berkatalah pohon apel itu tersebut, "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu. Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini."

Jawab si anak lelaki, "Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu dan aku sudah terlalu tua untuk memanjat batang dahanmu. Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang kecuali tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."

"Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.
Pohon apel itu tersenyum dan merasa begitu gembira hingga meneteskan air mata

Itu adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita.

Ketika kita kecil, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.
Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita tanpa kita sendiri menyadari

OBSERVASI BANK MANAJEMEN KEUANGAN

OBSERVASI BANK MANAJEMEN KEUANGAN


Observasi Bank Manajemen Keuangan
Dari observasi yang di lakukan di beberapa bank antara lain: Bank Mandiri, dan Bank Pembangunan Daerah Jatim dapat kami simpulkan bahwa tingkat suku bunga dan biaya-biaya yang di cantumkan oleh kedua bank tersebut adalah:

KETERANGAN
BANK MANDIRI
Pembukaan awal
Biaya Administrasi
Biaya Buku tabungan
Biaya ATM
Saldo minimal dapat bunga
Rp       50.000
Rp         7.000
Rp   2.000/bln
Rp   3.000/bln
Rp.    500.000
Tingkat suku bunga
Tabungan Mandiri
Deposito 1 bulan
Deposito 3 bulan
Deposito 6 bulan
Deposito 12 bulan
Deposito 24 bulan

5 %
7 %
7 %
7,25 %
7 %
7 %


KETERANGAN
BPD JATIM
Pembukaan awal T. Simpeda
Pembukaan awal T. Siklus
Pembukaan awal T. Haji
Pembukaan awal Giro
Pembukaan Deposito minimal
B. Adm. Tabungan Simpeda
B. Adm. Tabungan Siklus
B. Adm. Tabungan Haji
Biaya Giro
Biaya buku tabungan
Biaya ATM
B. Adm / bln
Rp       50.000
Rp.      50.000
Rp.    100.000
Rp. 1.500.000
Rp.  1000.000
Rp.        2.500
Rp.       5.500.        
-
Rp.      15.000
Rp.        2.500
Rp.        3.000
Rp.        1.000
Tingkat suku bunga
Tabungan Simpeda
Tabungan Siklus
Tabungan Haji
Giro
Deposito 1 bulan
Deposito 3 bulan
Deposito 6 bulan
Deposito 12 bulan

5 %
5.5  %
0 %
4 %
9.25 %
9.25 %
9.25 %
9.25 %

Manajemen Sumber Daya Manusia, evolusi konsep (manajemen)

Manajemen Sumber Daya Manusia berakar dari revolusi industri, dimana penyebaran industrialisasi telah memberikan tekanan pada kemampuan bisnis dalam hal menggaji, melatih, dan mengendalikan sejumlah besar karyawan yang dimilikinya dalam Manajemen Sumber Daya Manusia ini. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 terjadi perubahan besar pada peraturan pemerintah dan relasi-relas buruh berkaitan dengan berkembangnya bidang ini. Manajemen Sumber Daya Manusia hadir secara menonjol pada pertengahan abad ke-20, yang dibantu dan dipengaruhi oleh berkembangnya kajian-kajian perilaku dan organisasi. Pada tahun 1948 telah terbentuk The Society for Human Resource Management yang semula bernama American Society for Personnel Administration . Semenjak saat itu, bidang ini menjadi profesi yang dikenal secara luas baik pada praktisi maupun peneliti (questia.com, 2004). Bagaaimana di Indonesia, dimana era agraris, industri, dan informasi berjalan beriringan? Konsep SDM (sumber daya manusia) pada umumnya memang digunakan dalam bidang manajemen maupun psikologi industri dan organisasi. Konsep ini ternyata telah mengalami perubahan dari waktu ke waktu, terutama dalam beberapa dekade terakhir. Berdasarkan istilahnya, semula memiliki nama (manajemen) personalia, lalu berubah menjadi sumber daya manusia, dan dewasa ini muncul istilah human capital. Dengan menggunakan kamus, website, dan buku teks sejak tahun 1980an, makalah ini mencoba mengkaji evolusi konsep MSDM. Hasil penelitian lalu dianalisis secara kualitatif dengan cara mengkoding berdasarkan tema-tema, antara lain: tahun/dekade, isi, serta transisi perubahannya. Hasilnya diharapkan dapat dijadikan pertimbangan dalam penerapannya di Indonesia.