Minggu, 05 Juni 2011

Belajar tentang Kebersamaan

Membangun rakit dengan bahan-bahan drum, bambu, tali, untuk mengambil bendera di sasaran yang ditentukan, dalam sesi Building Raft.

Mendung menyelimuti kawasan danau di Situgunung, Cisaat, Sukabumi, pada Jumat, 15 Desember lalu. Tetapi, cuaca yang berubah cepat menjadi gerimis tipis itu sama sekali tidak menyurutkan langkah 41 peserta outbound management training untuk terus bekerja. Mereka berpacu melawan waktu untuk bisa menyelesaikan tugas lapangan terakhir. Sesi itu disebut Building Raft.

Mereka, dibagi dalam tiga regu, harus membangun rakit. Mereka mengemban tugas mengarungi danau, untuk mengambil bendera-bendera yang sudah diletakkan di titik-titik tertentu oleh fasilitator dari PT Binawana Sarana, operator outbound management training, yang mendampingi pelatihan itu.

Dalam tempo dua jam pekerjaan itu harus selesai. Fasilitator sudah menyediakan bahan-bahannya, yakni enam drum besar, beberapa bilah bambu panjang dan pendek, tali, life jacket, serta beberapa bilah bambu lebih pendek, papan seukuran kertas folio, dan tali-tali kecil. Tiga yang disebut terakhir itu harus dirangkai menjadi dayung.

Sekitar satu jam, satu kelompok berhasil menyelesaikan rakitnya. Dengan bersemangat mereka langsung terjun ke air, mendayung rakitnya, menuju sasaran. Tak berapa lama, rakit kedua menyusul. Malang bagi regu yang terakhir turun. Kesalahan konstruksi menyebabkan mereka harus mengulang membangun rakit. Tidak hanya sekali, namun dua kali.

Pada upaya ketiga, lagi-lagi rakit itu jebol berantakan ketika baru mengarungi jarak sekitar 25 meter. Nasib yang sama dialami regu kedua. Rakit jebol pada jarak sekitar 100 meter menjelang daratan.

Walau tidak semua berhasil, bahkan lewat beberapa menit dari waktu yang ditetapkan, fasilitator menilai peserta pelatihan mampu menyelesaikan tugas itu. Regu pertama dan regu kedua berhasil mengambil semua bendera di titik sasaran yang ditentukan, atas nama semua peserta. Mereka mampu menunjukkan kebersamaan dan kepedulian. Regu pertama menolong regu ketiga yang berjatuhan tercebur ke danau.

Kegagalan dievaluasi bersama-sama. Tak ada yang saling menyalahkan, yang muncul malah introspeksi diri. Tiga hari melewatkan waktu bersama- sama di alam, jauh dari rumah, rupanya semakin mengakrabkan mereka, yang sekalipun satu perusahaan, namun berasal dari bagian atau divisi berbeda.

Kerja Sama Kelompok

Mereka, peserta pelatihan itu, adalah karyawan PT Indonesia Comnet Plus. Perusahaan yang lebih dikenal melalui trade name Icon+ itu adalah anak perusahaan PT PLN (Persero) yang didirikan untuk mendukung perkembangan teknologi komunikasi dan informasi di Indonesia. "Sasaran utama pelatihan ini adalah membangun kerja sama kelompok yang berangkat dari kualitas individu, kepedulian, dan kecepatan," kata Ari Pambudi, fasilitator pada pelatihan itu.

Bukan tanpa tujuan sasaran itu dicanangkan. Dirut PT Indonesia Comnet Plus D Rochkadar Sukada sangat menyadari persaingan usaha yang mereka hadapi semakin ketat, bukan hanya saat ini namun juga di masa mendatang. Menyadari kenyataan itu pula, perusahaannya menyisihkan uang untuk mengirim lebih dari seratus karyawannya menjalani outdoor management training dalam tiga gelombang.

Tentu pelatihan semacam itu tidak serta-merta mendatangkan keuntungan bagi perusahaan, atau bahkan mendongkrak pendapatan. Namun, Rochkadar Sukada sangat menyadari aset paling berharga bagi perusahaannya adalah sumber daya manusianya. Ia menilai outdoor management training, yang juga pernah dijalaninya, mampu memberi andil dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia di perusahaannya.

"Memang tidak serta-merta pribadi demi pribadi, termasuk saya, akan mengubah sikap setelah menjalani pelatihan seperti ini," kata Ferro Aryo Hanendyo (24), salah seorang peserta, yang pernah mengikuti pelatihan manajemen indoor.

Namun, Ferro mengakui kegiatan yang baru diikutinya itu bermanfaat. Bukan hanya belajar tentang kebersamaan melalui kegiatan fisik bersama-sama seperti Bulding Raft ataupun High Ropes, tetapi juga sepanjang pelatihan itu ia belajar sabar, belajar mendengar, belajar melihat kelebihan orang lain, belajar mengetahui kelemahan diri sendiri melalui sesi-sesi di kelas.

"Belajar peduli kepada orang lain," ia menambahkan. Hal senada dikemukakan Syam Ardhi Yanuar (25).

Sejak hari pertama, fasilitator yang dipimpin Indrawati, mengajak peserta membedah nilai-nilai positif dan nilai-nilai negatif dalam kehidupan. Perlahan-lahan, berseling dengan kegiatan untuk membangun kekompakan atau kebersamaan, masing-masing peserta digiring untuk semakin membuka diri.

Sesi Feedback, misalnya, menjadi sesi yang sangat berat bagi sebagian peserta. Bergantian masing-masing peserta duduk di "kursi panas". Duduk bersila, menegakkan kepala dan badan, menutup mata, siapa pun yang duduk di "kursi panas" akan mendengarkan satu per satu teman yang duduk mengelilinginya, mengungkapkan sifat-sifat negatifnya. "Kamu tuh, orangnya nggak sabaran. Kamu nggak pernah memberi kesempatan orang lain untuk berbuat sesuatu karena ketidasabaranmu." Kalimat itu hanya salah satu contoh. Contoh lain, "Kamu tuh, orang yang nggak pernah serius menanggapi suatu masalah. Kamu orang yang terlalu banyak bercanda."

Pernyataan seperti itu memang bisa membuat kuping panas. Tetapi, semua harus mampu menjalani proses itu. Pada satu titik, fasilitator akan membimbing teman-teman itu untuk bergantian mengungkapkan sisi-sisi positif teman yang duduk di "kursi panas".

Ketika pernyataan demi pernyataan, negatif maupun positif berakhir, fasilitator akan membimbing "terdakwa" membuka mata, menyalam teman-teman di sekeliling. Sungguh saat-saat yang mengharukan, karena tak jarang acara itu diakhiri dengan saling berpelukan, diiringi lelehan air mata.

Tidak mudah, memang, seperti diakui Indrawati. Bukan hanya karena sering kali seseorang menyembunyikan nilai-nilai negatif, tetapi juga sering orang berlindung di balik topeng-topeng kepalsuan. Sesi seperti itu akan mampu orang membuka diri, karena feedback dilakukan tanpa prasangka negatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar